DARAH DAGING
Darah daging???
Apakah yang dimaksudkan dengan darah
daging?Seringkali kita memdengar permusuhan diantara darah daging sering
berlaku.Oleh itu,ayuh bersama saya kita susuri apakah yang dimaksudkan dengan
darah daging.
Darah daging ialah
anak atau orang yang ada PERTALIAN DARAH dengan anda.Iaitu secara lebih
jelasnya ahli keluarga merangkumi,anak-anak,ibu bapa ,datuk ,nenek,adik-
beradik dan ahli keluarga yang lain.
Oleh sebab kita mengakui Al-Quran dan sunnah sebagai panduan
hidup, seharusnya kita berusaha mencipta kebaikan dalam kehidupan ini. Kita
harus memperbaiki hubungan persaudaraan sesama Islam, merapatkan hubungan
silaturahim dengan keluarga yang dekat mahupun yang jauh dan mencipta
perdamaian di antara pihak-pihak yang bermusuhan.
Allah menegaskan dalam firmanNya yang bermaksud: Bertakwalah
kamu kepada Allah dan perbaikilah keadaan perhubungan di antara kamu, serta
taatlah kepada Allah dan RasulNya, jika betul kamu orang-orang yang beriman -
(Surah al-Anfal, ayat 1).
"Ciri-ciri mukmin yang sejati ialah menghormati tetangganya,
menyambungkan tali persaudaraan dan memiliki perhatinan terhadap penderitaan
yang dirasakan oleh saudaranya di sekitarnya."
(Hadis diriwayat oleh Bukhari).
Pengabaian oleh sesetengah umat Islam terhadap maksud hadis
tersebut meletakkan diri mereka pada hari ini jauh sekali daripada memenuhi
ciri-ciri Mukmin yang sejati. Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah s.a.w
bahawa akan datang suatu zaman orang berkumpul di masjih untuk bersembahyang
tetapi tidak akur dengan tetangganya iaitu memutuskan silaturahim. Maka ia
dinilai oleh Nabi sebagai orang yang melakukan solat tetapi hakikatnya tidak
dihitung sebagai orang yang melakukan solat.
Al-Quran menyebut bahawa amalan silaturahim merupakan
perintah kedua setelah perintah takwa. Dalam surah Al-Nisa ayat 1, Allah
berfirman yang bermaksud:
"Bertakwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan
menyebut namaNya, serta peliharalah hubungan silaturahim kaum kerabat."
Al-Hujuraat, ayat 10, Allah
menegaskan dalam firmaNya yang bermaksud:
"Sebenarnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Maka
damaikanlah di antara dua saudara kamu yang bertengkar itu dan bertakwalah
kepada Allah supaya kamu beroleh rahmat."
Takwa dan silaturahim selalu digandingkan di dalam Al-Quran
dan merupakan dua hal yang tak boleh dipisahkan. Maksudnya jika orang itu
bertakwa kepada Allah, tentu dia akan menyambungkan silaturahim dan kalau dia
tidak bertakwa kepada Allah tentu dia akan memutuskan hubungan silaturahim.
Dalam surah al-Ra`d ayat 21 disebut bahawa salah satu tanda
orang yang beruntung di akhirat ialah di dunia dia senang menyambungkan
hubungan silaturahim dengan kaum kerabat atau membantu orang-orang yang
memerlukan bantuan.
Dan orang-orang yang menghubungkan perkara-perkara yang
disuruh oleh Allah supaya dihubungkan. - (Surah al-Ra`d, ayat 21).
Oleh kerana di dunia mereka senang menyambungkan tali
kekeluargaan, maka Allah sambungkan tali kekeluargaan mereka nanti pada hari
akhirat. Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman:
Barang siapa yang memutuskan tali kekeluargaan, akan aku
putuskan hubunganKu dengan dia. Dan b arangsiapa menyambungkan tali
kekeluargaan, Akupun akan mengukuhkan tali kekeluargaannya nanti.
Lebih daripada itu diriwayatkan dalam banyak hadis bahawa
amalan silaturahim akan memakmurkan rumah dan menambah usia walaupun para
pelakunya bukan orang baik-baik. Amalan silaturahim ini akan membersihkan
segala amalan kita yang lain serta melipatgandakan kekayaan, menolak bala dan
menangguhkan kematian.
Perbezaan ideologi tidak seharusnya menjadi alasan untuk
memutuskan hubungan tali silaturahim. Ingatlah orang yang memutuskan tali
persaudaraan akan menerima laknat daripada Allah S.W.T.
Ketika Nabi berada di Arafah pada waktu Isyak bersama-sama
sahabat, tiba-tiba beliau bersabda yang bermaksud:
Aku tidak menghalalkan siapapun yang pada petang hari ini
dalam keadaan memutuskan tali silaturahim kecuali dia harus meninggalkan kami.
Dan yang jelas rahmat Allah tidak akan turun di tempat yang
ada suatu kaum yang memutuskan hubungan silaturahim.
Dalam Shahih Muslim terdapat hadits yang diriwayatkan dari
Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
تفتح أبواب الجنة يوم الاثنين ويوم الخميس
فيغفر لكل عبد لا يشرك بالله شيئا إلا رجلا كانت بينه وبين أخيه شحناء فيقال:
أنظروا هذين حتى يصطلحا، أنظروا هذين حتى يصطلحا، أنظروا هذين حتى يصطلحا
“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka
akan diampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun,
kecuali dua orang laki-laki yang terdapat permusuhan antara dia dengan
saudaranya. Maka dikatakan: ‘Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai
keduanya berdamai. Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.
Tangguhkan oleh kalian kedua orang ini, sampai keduanya berdamai.’”
Kerugian yang nyata
Sesungguhnya, terhalangnya seseorang dari kebaikan ini
(yaitu diangkatnya amal -pent), benar-benar merupakan kerugian yang nyata. Dan
termasuk perkara yang mengherankan dari seorang muslim, dimana dia
mengedepankan hawa nafsunya di atas keridhaan Rabb-nya. Allah menghendaki
seorang hamba mencintai orang-orang beriman, dan jangan sampai terdapat
permusuhan diantaranya dengan seorangpun dari kaum muslimin. Kalau seandainya
terjadi, Allah memerintahkannya untuk memaafkan dan mengampuni. Jika dia
melakukannya, maka Allah menjanjikan untuknya pahala yang besar. Akan tetapi,
sungguh mengherankan hamba ini, dimana dia melanggar perintah Rabb-nya, dan
mentaati setan; maka dia mengharamkan bagi dirinya kebaikan yang banyak.
Wajib berdamai
Ketahuilah wahai saudaraku yang mulia, bahwasanya apabila
terjadi permusuhan diantara kedua orang, maka akan terhalang bagi mereka
mendapatkan ampunan, sampai mereka berdamai. Jika salah seorang dari mereka
berusaha berdamai, dan yang lainnya menolaknya, maka orang yang menolak
tersebutlah yang akan tertutup baginya ampunan, disebabkan karena penolakannya
dan ketidak taatannya kepada Allah.
Wajib bagimu wahai saudaraku, untuk sungguh-sungguh dalam
berusaha untuk berdamai, dan meminta pertolongan – setelah pertolongan kepada
Allah – kepada orang-orang yang baik (untuk mendamaikan kalian).
Diantara keutamaan akhlak yang baik
Dan saya nasihatkan kepadamu wahai saudaraku yang mulia,
untuk berhias diri dengan akhlak yang baik.
Nawwaas bin Sam’aan Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan dan
dosa. Maka beliau bersabda:
البر حسن الخلق، والإثم: ما حاك في
نفسك، وكرهت أن يطلع عليه الناس
‘Kebaikan adalah akhlak yang baik. Sedangkan dosa adalah
apa-apa yang terbetik dalam jiwamu, dan kamu tidak suka diketahui manusia.’”
(HR. Muslim)
Paling berat di timbangan
Abu Darda’ Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwasanya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ما من شيءٍ أثقل في ميزان المؤمن يوم
القيامة من حسن الخلق، وإن الله يبغض الفاحش البذي
“Tidak ada sesuatupun yang lebih berat di dalam timbangan
seorang mukmin pada hari kiamat, dari akhlak yang baik. Dan sesungguhnya Allah
membenci orang yang berakhlak jelek, lagi al-badzii’.” (HR. Tirmidzi, dan dia
berkata, “Hadis ini hasan shahih”)
al-Badzii’ yaitu orang yang berbicara dengan akhlak yang
buruk, dan dengan perkataan yang kotor.
Paling banyak memasukkan ke surga
Abu Huraira Radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwasanya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang perkara yang
paling banyak memasukkan manusia ke Surga, maka beliau bersabda,
“Takwa kepada Allah, dan akhlak yang baik.”
Beliau juga pernah ditanya tentang perkara yang banyak
menjerumuskan manusia ke Neraka, maka beliau bersabda,
“Mulut dan kemaluan” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadis
ini hasan shahih.”)
Tolak ukur keimanan
Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan bahwasanya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أكمل المؤمنين إيماناً أحسنهم خلقاً،
وخياركم خياركم لنسائهم
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang
paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik diantara kalian, adalah orang
yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadis ini
hasan shahih.”)
Mencapai derajat ahli ibadah
Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata bahwasanya dia mendengar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن المؤمن ليدرك بحسن خلقه درجة الصائم
القائم
“Sungguh seorang mukmin, dengan akhlak baiknya, dia dapat
mencapai derajat orang yang gemar berpuasa lagi rajin shalat malam” (HR. Abu
Dawud)
Jaminan rumah di surga
Abu Umamah al-Bahiliy Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أنا زعيمٌ ببيتٍ في ربض الجنة لمن ترك
المراء، وإن كان محقاً، وببيتٍ في وسط الجنة لمن ترك الكذب، وإن كان مازحاً،
وببيتٍ في أعلى الجنة لمن حسن خلقه
“Saya menjamin sebuah rumah di surga bagi orang yang
meninggalkan perdebatan kendati dia benar, rumah di tengah surga bagi orang
yang meninggalkan kebohongan kendati hanya bercanda, dan rumah di tingkat atas
surga bagi orang yang memperbaiki akhlaknya (sampai menjadi akhlak hasanah).”
(Hadis shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih)
Paling dekat dengan Rasulullah
Jabir Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إن من أحبكم إلي، وأقربكم مني مجلساً
يوم القيامة، أحاسنكم أخلاقاً. وإن أبغضكم إلي، وأبعدكم مني يوم القيامة،
الثرثارون والمتشدقون والمتفيهقون
“Sesungguhnya termasuk orang yang paling saya cintai
diantara kalian, dan paling dekat dengan saya tempat duduknya pada hari kiamat;
adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan sesungguhnya termasuk orang yang
paling saya benci diantara kalian, dan paling jauh dengan saya tempat duduknya
pada hari kiamat; adalah tsartsaarun (orang yang banyak bicara dengan
berlebih-lebihan dan keluar dari kebenaran), mutasyaddiqun (orang yang banyak
bicara dengan tidak hati-hati), dan mutafaihiqun.”
Para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah
mengetahui makna tsartsaarun dan mutasyaddiqun. Apakah makna dari
mutafaihiqun?” Rasulullah bersabda, “(Mereka adalah) orang-orang yang sombong
(yaitu orang yang banyak bicara untuk menunjukkan kefasihan dan keutamaannya
-pent).” (HR. Tirmidzi, dan dia berkata, “Hadis ini hasan.”)
Perbanyaklah taubat dan istighfar
Dan kami katakan kepada Anda, hendaklah banyak bertaubat,
dan ber-istighfar (meminta ampunan kepada Allah). Hal-hal buruk yang menimpamu,
hal itu disebabkan dosa yang telah Anda lakukan. Maka bertaubatlah kepada
Allah, dan perbanyaklah sedekah dan kebaikan. Salah seorang salaf (orang
terdahulu) berkata,
إني لا أجد شؤم المعصية في دابتي وخلق
زوجتي
Sungguh saya mendapatkan dampak buruk maksiat di dalam hewan
tungganganku dan akhlak istriku.
Allah Ta’ala berfirman :
{ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي
الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ
الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ} [الروم: 41]
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan
karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka
sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang
benar).” (QS. Ar-Ruum: 41)
{وَمَا أَصَابَكُم مِّن
مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ} [الشورى: 30]
“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan
oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syura